DETAK60.COM, JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak pembenahan melalui transformasi MBG 2.0. Badan Gizi Nasional (BGN) berupaya memperkuat tata kelola program, meningkatkan pengawasan, serta memastikan penggunaan anggaran lebih transparan dan efisien.
Pembenahan itu dilakukan di tengah berbagai tantangan dalam pelaksanaan MBG, mulai dari pengawasan keamanan pangan hingga pertanggungjawaban penggunaan anggaran.
Untuk menjawab persoalan tersebut, BGN menyiapkan sejumlah perubahan, termasuk pemanfaatan kamera pengawas berbasis kecerdasan buatan (AI), penerapan sistem prasmanan, dan pengembangan platform digital.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, transformasi MBG 2.0 bukan sekadar melanjutkan program pembagian makanan, melainkan menjadi kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaiki pelaksanaannya.
"Bukan sekadar melanjutkan program, transformasi MBG 2.0 menjadi kesempatan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan memperkuat pelaksanaan MBG, "kata Sudaryono dalam acara Transformasi MBG 2.0 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Konsep MBG 2.0 dibangun melalui tiga prioritas utama, yakni pemberantasan korupsi, penguatan tata kelola dan pengawasan, serta transparansi dan kolaborasi.
Untuk mewujudkan prioritas tersebut, BGN menyiapkan sejumlah inovasi, mulai dari pengawasan dapur berbasis teknologi hingga perubahan mekanisme penyajian makanan dan pengelolaan anggaran.
Lantas, bagaimana memastikan berbagai inovasi tersebut benar-benar terealisasi dan tidak berhenti sebagai rencana?
CCTV berbasis AI dengan target 10.000 dapur terhubung ke pusat, merupakan salah satu inovasi yang disiapkan BGN adalah mengintegrasikan kamera pengawas atau CCTV di dapur MBG dengan sistem pemantauan di pusat.
Sudaryono menargetkan sebanyak 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkoneksi dengan CCTV yang dapat dipantau secara terpusat hingga akhir 2026.
"Kami targetkan sampai dengan akhir tahun ini minimal 5.000 sampai dengan 10.000 dapur dari 26.300 dapur tadi sudah terkoneksi dengan CCTV secara sentral yang kemudian digabungkan atau diamati melalui artificial intelligence, "ujar Sudaryono.
Sudaryono menjelaskan, selama ini sejumlah dapur sebenarnya telah memiliki CCTV. Namun, rekamannya belum seluruhnya terhubung dengan sistem pemantauan BGN pusat. Namun, yang ingin kami lakukan adalah memastikan bahwa rekaman CCTV tersebut juga dapat diakses oleh Komite Dapur dan terkoneksi dengan sistem pusat,"ujarnya.
Melalui teknologi AI, BGN diharapkan dapat mendeteksi pelanggaran standar kebersihan dan pengolahan makanan. Misalnya, bahan makanan yang diletakkan di lantai atau petugas yang tidak menggunakan sarung tangan saat memasak. Sejauh ini, CCTV telah terpasang di 70 SPPG.
Sudaryono berharap, pengawasan tersebut dapat menekan angka kejadian keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG. Ia menyebutkan, rasio kejadian insiden keamanan pangan atau Incidents per Million Servings (IPMS) di Indonesia mencapai 5,3 pada Januari-Desember 2025.
"Doakan kami, dukung kami, kasih masukan, kasih kritikan, kasih saran, kasih apa pun itu agar bagaimana caranya kita bisa sampai di level Amerika, yakni nol. Kita ingin nol, tidak boleh ada satu orang pun (yang mengalami keracunan)," tegasnya.
Sistem prasmanan, target yang akan diterapkan di 10.000 dapur Selain pengawasan melalui CCTV, BGN menyiapkan perubahan metode penyajian makanan melalui sistem prasmanan.
Menurut Sudaryono, metode prasmanan memungkinkan makanan disajikan langsung di kelas dalam kondisi hangat sehingga tidak perlu melalui proses pemanasan ulang. Penyajian dilakukan dengan membawa makanan dari dapur ke masing-masing kelas sesuai jumlah siswa. Suhu makanan juga dijaga minimal 60 derajat Celsius.
"Kalau di kelas ada 30 orang, dia bawa 30 porsi nasi, sayur, lauk, ditaruh di kelas, dia sajikan, dia makan, dia beresin, kemudian selesai. Jadi hangat-hangat, enggak perlu diangetin karena dibawanya hangat-hangat, dijaga suhunya di 60 derajat minimal," kata Sudaryono.
Metode ini juga memungkinkan siswa mengambil tambahan makanan apabila masih lapar, selama tetap sesuai dengan ketentuan porsi dan kebutuhan gizi. Dengan mekanisme tersebut, makanan yang disediakan diharapkan dapat dikonsumsi secara optimal dan mengurangi makanan tersisa. *